Sabtu, 06 Februari 2010

Akhirnya Sang Naga Menampakkan Diri

Sosok naga yang misterius mengundang perdebatan, apakah naga benar-benar nyata adanya atau hanya legenda dari mitologi belaka? Dalam tradisi Chinese, naga dikenal sebagai sosok yang tak asing, kental dengan nuansa Chinese. Contohnya, karakter naga dimasukkan dalam salah satu shio menurut penanggalan kalender Chinese.

Belum lama ini beredar berita tentang penampakkan makhluk naga di sungai Riam Haloq, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sosok naga sepanjang kurang lebih 40 meter tertangkap kamera ponsel saat sedang melintas dipermukaan air sungai (silakan dilihat pada resensi dibawah).

Sebelumnya pada tahun 2000 di Tanjung Balai, Medan, dilaporkan juga terdapat penampakkan naga di atas langit. Gambar tersebut direkam oleh amatir (silakan dilihat pada resensi dibawah). Dan pada Juni 2004, juga dilaporkan ada penampakkan makhluk naga di atas langit pegunungan Himalaya, Tibet (silakan dilihat pada resensi dibawah).

Namun naga bukan hanya dikenal dalam tradisi Chinese. Sekitar 2500 tahun yang lampau, di daratan India (saat ini) sebagai asal Buddhisme, telah berkembang pengetahuan yang meyakini keberadaan naga. Yup, Buddhisme mengakui keberadaan makhluk naga. Menurut Buddhisme, naga termasuk salah satu kelompok makhluk Deva Asura, yang memiliki kesaktian.

Makanya jangan heran kalau kemunculan naga tidak sesering yang diharapkan. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang bisa menyaksikan eksistensi naga setiap saat, kapan pun yang dia mau. Kesimpulannya, semua hal tersebut memerlukan pengujian dan pembuktian lebih lanjut. Buddha menganjurkan untuk selalu mengembangkan sikap Ehipassiko, yaitu datang, lihat, dan buktikan. Jangan hanya mempercayai secara membabi buta.

Untuk melihat foto dan video yang dimaksud, silakan klik link pada resensi dibawah ini....


Resensi :

1. http://detikyogyakarta.net/inilah-foto-yang-diduga-penampakan-naga-yang-menggemparkan-warga-kutai-barat-kalimantan-timur/

2. http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t63165.html

3. http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?p=253546

Kamis, 07 Januari 2010

Angin Perubahan

Di wilayah timur jauh, tepatnya Mongolia, sekitar 1000 tahun yang lampau pernah terlahir seorang kaisar. Namanya Jenghis Khan, penguasa kekaisaran Mongol yang amat termashyur. Sejarah dunia mencatat bahwa kekaisaran Mongol adalah salah satu negara yang kekuasaannya mendekati dominasi atas seluruh dunia (global domination).

Kekuasaannya waktu itu adalah: China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara. Tapi itu hanya cerita dulu. Saat ini Mongolia termasuk dalam salah satu negara termiskin di Asia. Yang tersisa dari kisah legendaris itu hanya catatan sejarah.

Oei Tiong Ham, pada awal abad ke 20, konglomerat yang dikenal dengan julukan Raja Gula Asia. Disebut-sebut sebagai orang terkaya di Asia Tenggara pada jamannya. Usahanya mempunyai cabang-cabang di Bangkok, Calcutta, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Perusahaannya juga mempunyai properti dan sejumlah pabrik di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.

Lagi-lagi itu juga cuma cerita dulu. Saat ini warisannya sudah tercerai-berai, tergerus berkeping-keping. Perselisihan antar anggota keluarga yang tak kunjung usai. Sehingga klaim sebagai orang terkaya di Asia Tenggara tinggal kenangan.

Dengan kepalan tinju yang mematikan, Muhammad Ali menaklukkan lawan-lawannya diatas ring tinju. Puncaknya pada dekade 1960-1970an, ia mencatatkan dirinya sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat. Masa kejayaan telah melambungkan namanya ke seluruh penjuru dunia.

Namun masa-masa kejayaan itu sekarang telah usai. Ia yang dulu begitu perkasa diatas ring tinju, sekarang telah lemah gontai. Usia yang telah uzur, ditambah penyakit parkinson yang menggerogoti tubuhnya, semakin mempertegas melorotnya keperkasaan sang juara.

Dari sepenggal kisah catatan sejarah tersebut, bisa ditarik kesimpulan, bahwa tidak ada suatu kondisi yang bertahan terus menerus. Seiring dengan berjalannya waktu, angin perubahan cepat atau lambat akan lewat dihadapan. Meski terkadang berat untuk menerima kenyataan, namun hukum alam tidak pernah kompromi untuk menjalankan fungsinya.

Seperti dalam sabda Buddha, "Sabbe Sankhara Anicca". Secara harfiah berarti, "Segala Sesuatu Yang Berkondisi Adalah Tidak Kekal". Meskipun sering didengar atau baca, namun ketika angin perubahan datang menerjang, terkadang sulit menerima. Apalagi ketika sedang face to face berhadapan dengan fenomena ketidak kekalan, segala teori dan teks seolah kabur tak mau menemani. Padahal sudah menjadi sifat alamiah kehidupan, bahwa "Segala Sesuatu Yang Muncul, Pasti Akan Hancur Dan Lenyap". Ternyata butuh sesuatu yang spesial untuk benar-benar memahami makna yang teramat sukar diselami.

Setelah disadari, jalan ternyata masih terbentang jauh. Hanya mendengar kata-kata Sang Guru bahwa ada tujuan, namun masih diawang-awang. Nyaris tak terlihat, tertutupi tebalnya kabut kekotoran batin.


Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebencian,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.



TH 070110



Referensi :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Jenghis_Khan
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_PDB_(PPP)
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Oei_Tiong_Ham
4. Davonar, Agnes. 2009. Kisah Tragis Oei Hui Lan : Putri Raja Gula Asia Tenggara Dari Semarang. Jakarta.
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali

Jumat, 01 Januari 2010

Wujud Pluralisme

Sejumlah besar umat Hindu merayakan hari raya Nyepi. Umat Buddha dengan hari raya Waisak. Lalu umat Kristiani ada hari kebesarannya juga, yaitu hari raya Natal. Sedangkan umat Muslim merayakan Idul Fitri. Setiap aliran kepercayaan memiliki hari kebesarannya masing-masing, dan dirayakan pula secara parsial oleh yang merayakan.

Tetapi ada satu hari yang dirayakan oleh seluruh umat yang disebutkan diatas, yaitu perayaan malam tahun baru. Tidak peduli apapun sistem kepercayaan, suku, warna kulit, dan golongan. Semua merayakan dengan suka cita, berbaur dalam perayaan yang meriah. Setiap momen perayaan terangkai dalam satu objektif yang sama, yaitu menunggu datangnya detik-detik pergantian tahun, tepatnya pukul 00.00

Boleh dibilang perayaan malam tahun baru merupakan perayaan umat manusia yang terbesar. Melebihi perayaan lain. Bebas dari embel-embel agama, bebas dari labeling gender, bebas dari kotak-kotak etnis, bebas dari merek-merek golongan tertentu. Semuanya berada pada satu kesepakatan.

Esensi yang dapat dipetik dari momen tersebut adalah wujud pluralisme. Yup, wujud tersebut tampak nyata ke permukaan, tidak semu. Pada dasarnya semua manusia memiliki nilai-nilai pluralisme, namun tertutupi oleh muatan yang begitu banyak.

Sekarang tinggal bagaimana meneruskan nilai-nilai tersebut dalam kelanjutan selama setahun yang baru ini, lalu kemudian digenjot lagi pada perayaan berikutnya. Jangan biarkan nilai-nilai pluralisme, mati kehabisan nafas.

Semoga pluralisme tetap jaya... SELAMAT TAHUN BARU 2010...


Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebenciaan,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.


TH 020110

Sabtu, 12 Desember 2009

Kepuasan Diri

"Merasa puas dan selalu berterima kasih,
Itulah berkah utama"

(Mangala Sutta)


Sudah lebih dari dua dekade berlalu, tepatnya 21 tahun. Penyakit lumpuh tak diketahui sebabnya menemaniku. Hidup yang perlu disokong oleh orang lain, meski untuk hal yang bersifat pribadi. Sungguh berat dan agak menyiksa bila dipikirkan.

Namun aku masih cukup beruntung, kalau boleh dibilang. Dari beberapa cerita, sewaktu aku masih kuliah, dikisahkan kehidupan seorang cacat lumpuh yang masih tetangga sekampung dengan temanku, dikatakan kehidupannya sangat menyedihkan. Disaat aku masih dapat menikmati bangku pendidikan tinggi, dia hanya terkurung dikamar. Aku masih dapat membersihkan badan tiap hari (meski dibantu), dan memakai pakaian yang layak. Dia jarang bisa membersihkan badan tiap hari, dan memiliki pakaian yang layak.

Kalau dipikir dengan seksama, aku termasuk masih beruntung. Yah, boleh dibilang nasibku nggak jelek-jelek amat. Apalagi saat ini aku terlahir sebagai manusia. Menurut ajaran Buddha yang aku anut, "Sungguh sulit terlahir sebagai manusia". Dengan terlahir sebagai manusia, tentu aku memiliki kesempatan untuk mengenal dan membedakan yang baik dengan yang tidak baik. Ditambah memiliki enam indera yang komplit, dalam kondisi yang cukup baik.

Yang paling membahagiakan lagi, pada kehidupan saat ini, aku terlahir sebagai manusia yang berjodoh untuk mengenal dan mempelajari dhamma. Karena Buddha juga berkata, "Sungguh sulit untuk mengenal dan mempelajari dhamma". Berkat jodoh aku bertemu dengan dhamma, maka memiliki kesempatan untuk memperbaiki sisa-sisa kamma lampau yang tidak baik. Dan yang paling penting, timbulnya pemahaman atas fenomena yang aku alami.

Meskipun diriku hanya awam, bukan ahli dhamma. Tapi secercah pemahaman bisa mengurangi kegelisahan, kegundahan, atau kekhawatiran (syukur-syukur bisa lenyap). Lalu batin menjadi tenang, dan pada akhirnya timbul rasa puas diri. Karena apa yang sesungguhnya menjadi sumber ketidakpuasan, yaitu tidak sesuainya apa yang ada didalam angan-angan, harapan, dan keinginan, dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan kata lain, kenyataan tidak sesuai dengan angan-angan, harapan, dan keinginan.

Satu lagi keuntungan aku sebagai manusia yang berkesempatan mengenal dhamma, yaitu mengetahui sebab-sebab fenomena yang terjadi pada hidup ini. Termasuk bahagia dan derita hidupku. Dalam salah satu sutta, Buddha menyebutkan,

"Semua makhluk,
memiliki karmanya sendiri,
mewarisi karmanya sendiri,
terlahir dari karmanya sendiri,
berhubungan dengan karmanya sendiri,
terlindung oleh karmanya sendiri,
apa pun yang diperbuat,
baik atau buruk,
itulah yang akan diwarisinya"


Oleh karena itu, apa pun sistem kepercayaan teman-teman, apa pun status sosial teman-teman, apa pun warna kulit, jenis kelamin, ras, dan lainnya. Itu semua hanya atribut yang melekat, esensi yang paling penting adalah keberadaan kita sebagai manusia. Makhluk yang berakal budi, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Manusia memiliki keunggulan satu poin, dibanding makhluk lain.


Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebenciaan,
Bebas dari kesakitan,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya


TH 121209

Jumat, 27 November 2009

Jangan Tergesa-gesa....

Tanpa sengaja seorang teman meminjamkan sebuah buku yang isinya bagi sebagian orang sangat mengejutkan, bahkan memuakkan barangkali. Disitu berisi kisah yang amat menyentuh, tak terpikirkan, dan boleh dibilang mengusik kenyamanan komunitas tertentu. Terlepas dari benar atau tidaknya isi buku tersebut, tentunya kita tidak bisa mengabaikan begitu saja makna yang terkandung. Lebih bijaksana rasanya bila kita menyerap apa yang bermanfaat dan sebaliknya. Lagipula saya tidak berkompeten untuk menilai benar atau tidaknya isi buku tersebut. Posisi saya hanya berfungsi sebagai penyampai apa yang menurut saya menarik untuk disampaikan, atau dengan sedikit memaksa (Hehe...), layak dan pantas untuk disampaikan.

Dikisahkan bahwa seorang perempuan yang selama ribuan tahun distigma, dicap, lebih tepat difitnah dengan sebutan yang kurang pantas. Ribuan tahun lamanya, sebagian besar orang tidak mengetahui kisah tersebut, karena beberapa hal yang rumit. Terbungkus dengan rapi, boleh dikatakan sebagai kategori top secret dalam dunia intelijen.

Seiring dengan berjalannya waktu, sekaligus kedewasaan dalam beradab dan berbudaya, kebenaran tersebut semakin terkuak secara perlahan tapi pasti. Bukti-bukti otentik yang diketemukan beberapa tahun belakangan, ditambah kerja keras para peneliti, menyebutkan fakta yang berseberangan dengan apa yang selama ini dikoar-koarkan sebagian besar orang. Dari yang tadinya diposisikan hina, malah ternyata beliau adalah orang yang terhormat pada komunitasnya. Jujur saja, kalau untuk ukuran jaman modern sekarang, yah... beliau ada pada posisi nomor dua dalam tampuk kepemimpinan. Dengan kata lain, untuk urusan pembagian warisan, beliau yang pertama mendapat warisan jika sang pemimpin wafat.

Sekarang kita tinggalkan sejenak kisah tersebut, untuk menerobos lebih dalam ke makna sesungguhnya. Kalau kita perhatikan, ada benang merah yang dapat ditarik, yaitu jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Dalam menyikapi segala sesuatu hendaknya tidak langsung bereaksi secara positif atau negatif. Seringkali dalam hidup, kebanyakan kita terlalu tergesa dalam menyimpulkan sesuatu. Sesuatu yang benar, kita bilang salah. Sesuatu yang salah, kita bilang benar.

Jika sudah demikian, saya jadi teringat dengan kata-kata yang terdapat dalam Kalama Sutta. Buddha menasehati bahwa :
1. Jangan menerima apapun hanya berdasarkan berita semata
2. Jangan menerima apapun hanya karena sudah menjadi tradisi
3. Jangan menerima apapun hanya karena desas-desus belaka
4. Jangan menerima apapun hanya dikatakan bahwa terdapat dalam kitab suci
5. Jangan menerima apapun hanya didasarkan pada logika atau argumentasi pribadi
6. Jangan menerima apapun hanya terpengaruh pada sosok tertentu
7. Jangan menerima apapun hanya seolah-olah terlihat benar
8. Jangan menerima apapun hanya dari pengalaman spekulasi pribadi
9. Jangan menerima apapun hanya karena terkesan dengan kemampuan tertentu
10. Jangan menerima apapun hanya atas pertimbangan bahwa "inilah guru kami"

Dalam terminologi buddhis disebut ehipassiko, yang kira-kira artinya harus dapat dibuktikan. Dalam teks pada buku tersebut tertulis kata yang sangat jelas, rasanya tidak asing ditelinga, yaitu "jangan menghakimi". Yup, ada pelajaran yang bisa dipetik, selanjutnya diaplikasikan pada keseharian.

Bukan berarti menjadi plin-plan, namun lebih kepada melihat dengan jelas dulu. Karena tuntutan dunia yang serba cepat, seseorang terbiasa dituntut untuk cepat pula dalam mengambil kesimpulan (decision making). Dan tidak jarang kadang-kadang keliru dalam menyimpulkan sesuatu. Maka diperlukan kebesaran jiwa untuk menerima dengan lapang dada, bila kesimpulan yang kita pilih ternyata keliru. Dengan kata lain, berani mengakui kekeliruan.



Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebencian,
Bebas dari kesulitan jasmani,
Bebas dari kesukaran batin,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya,


By : Tedy Ho

Sabtu, 10 Oktober 2009

"Melihat Ke Dalam"

Dalam senggang malam di depan televisi, suatu ketika saya memperhatikan munculnya iklan-iklan yang silih berganti. Tanpa instruksi, tak terasa tenggelam dalam perenungan yang penuh makna. Bagi sebagian orang mungkin tak bermakna. Biarlah hanya keheningan yang akan menjawab semuanya. Sekian menit muncul beberapa iklan yang menawarkan produk kecantikan, misalnya kosmetik A, shampoo B, sabun C, dan lainnya. Beberapa menit kemudian, gantian muncul iklan produk kesehatan, misalnya obat D, suplemen E, dan lainnya. Tak lama berselang, giliran produk makanan dan minuman yang muncul, misalnya biskuit F, snack G, dan lainnya.

Setelah diperhatikan dan direnungkan, ternyata kebanyakan berhubungan dengan perawatan, pemeliharaan, dan pemenuhan kebutuhan pada jasmani atau fisik. Kira-kira demikian benang merah yang dapat ditarik. Tanpa terasa mengalir pertanyaan dalam batin. Mengapa manusia lebih tertarik untuk merawat, mengurusi, dan memelihara jasmani atau fisiknya semata??? Padahal menurut ajaran Buddha, manusia secara garis besar terkondisi oleh dua bagian yaitu, batin (nama) dan jasmani (rupa). Berarti jika sudah demikian, kalau mau adil dan seimbang, tentu kita tidak hanya merawat jasmani saja. Bukankah batin juga harus dirawat, dilindungi, atau dipelihara dengan apik.

Manusia dengan mudahnya merawat dan melindungi rambutnya, misalnya menggunakan shampoo yang wewangian aneka rupa, ditambah dengan segala macam campuran conditioner. Lantas merawat gigi dengan pasta gigi yang mencegah gigi berlubang. Kemudian membersihkan kulit dengan sabun antiseptik, dan lain-lain. Namun sebaliknya, batin kita kebanyakan tidak dirawat, dilindungi, dan dipelihara. Kadang-kadang kita lengah bila batin diserang dengan segala macam kotoran, gangguan, dan penyakit (yang biasanya disebut kilesa)

Kalau mau jujur, batin ini diserang segala macam kotoran, gangguan, atau penyakit, dari segala penjuru selama 24 jam sehari, 30 hari dalam sebulan, 365 hari dalam setahun, dan selama hidupnya. Serangan terhadap batin lebih cepat dan dahsyat. Dalam beberapa detik, bisa timbul kebencian terhadap 10 orang sekaligus. Belum lagi pikiran kotor melintas entah berapa kali mondar-mandir. Berseliweran seperti jalan tol tanpa penjaga. Kesadaran kita baru berlari sejauh 10 meter, kotoran batin sudah berlari masuk sejauh 100 meter. Pokoknya untuk orang awam (putthujana) seperti kita ini, kalah cepat dengan serangan kilesa. Seolah-olah mereka (kilesa) selalu berada di depan kita, mendahului kita.

Meskipun kalah cepat, bukan berarti mereka (kilesa) tidak bisa kita sergap. Tentunya dengan berlatih, menyadari setiap saat kondisi batin, kita bisa mengenali mereka. Melambatkan gerak-gerik batin. Tapi sekali lagi, tidak mudah untuk selalu sadar, sungguh teramat sulit, butuh perjuangan keras. Ciri khas dari dhamma, "mudah diucapkan sulit dilaksanakan". Semoga kita semua dapat berlatih dengan baik, dan segera mencapai pantai seberang. Sadhu...sadhu...sadhu...

Mohon maaf bila ada kesalahan. Mohon koreksi bila ada kekeliruan.



MAY ALL BEING PEACEFUL AND HAPPY!


By : Tedy Ho

Minggu, 27 September 2009

Melepas

Dalam keseharian selama hidup kita, tentu telah terbiasa menghadapi renteten fenomena batin dan jasmani yang baik dan yang tidak baik, menyenangkan dan tidak menyenangkan. Dari fenomena yang muncul tersebut, disadari atau tidak disadari, dalam pikiran kita telah terbentuk suatu "kebiasaan" atau perilaku yang beraneka ragam. Akumulasi yang demikian lama dan terus menerus telah membentuk semacam mindsets dalam pikiran kita.

Dalam terminologi Buddhis, "kebiasaan" atau pengulangan yang berulang-ulang fenomena batin dan jasmani, bisa disebut dengan kemelekatan (upadana). Bagi manusia awam seperti saya dan kita kebanyakan, amat sangat sulit menyadari kemelekatan yang mencengkeram. Meskipun telah banyak mendengar, menulis, membaca, tentang bahaya dari kemelekatan. Diperingatkan sekalipun masih suka lalai, tidak waspada, terjebak dalam cengkeraman. Pada umumnya kita melekat karena kita suka atau menyenangi objek yang dilekati. Kita melekat pada uang, kita melekat istri yang cantik, kita melekat pada suami yang tampan, kita melekat pada kesehatan yang prima, kita melekat pada kenikmatan sensual dan menggiurkan.

Lantas adakah cara untuk melatih terbebas dari kemelekatan? Menurut ajaran Buddha terdapat sepuluh kesempurnaan untuk melatih diri, yang dikenal dengan Dasa Paramita. Pada langkah pertama yang paling awal, disebutkan yaitu Dana. Secara umum diartikan sebagai kemurahan hati. Berdana adalah langkah awal dalam melatih pelepasan. Berdana adalah belajar melepaskan "hak milik" yang notabene berada dalam cakupan ego. Harta ini milikku, uang ini milikku, rumah ini milikku. Namun berdana tidak hanya melepas materi belaka. Berdana bisa dalam bentuk apapun, tenaga, pikiran, bahkan tubuh jasmani sekalipun. Sehingga mengurangi ego, tubuh ini milikku, pikiran ini milikku, perasaan ini milikku.

Dalam kisah jataka, Siddhatta Gotama, Boddhisatta, sebelum menjadi Samma-Sambuddha, beliau dalam kehidupan sebagai brahmana Sumedha pernah melakukan mahadana, dengan membagikan seluruh harta kekayaannya kepada siapapun yang mau mengambilnya, lalu pergi bertapa meninggalkan keduniawian. Bahkan banyak kisah-kisah jataka yang menceritakan, Boddhisatta men-dana-kan tubuh, istri, dan anaknya. Jadi berdana tidak hanya menyangkut materi belaka, esensi yang terkandung didalam makna berdana sangat dalam, yaitu melepas ego. Segala sesuatu bukan milikku (anatta).

Namun kita harus berhati-hati dengan perangkap baru dari berdana. Jangan sampai dengan berdana kita ingin melatih melepas ego, malah justru menambah ego baru dalam batin kita. Jangan sampai motif kita berdana disusupi oleh kesombongan ingin dihargai, ingin dihormati. Ada juga yang setelah berdana, minta doanya yang macam-macam. Ada yang ingin kaya raya, ingin hidup di alam surga setelah mati, dan lain-lain. Jika sudah demikian, kita malah justru mengganti kemelekatan yang satu dengan kemelekatan yang lain. Bukannya mengurangi kemelekatan akan uang, malah menambahnya. Contohnya : Dengan berdana Rp 100 ribu, berharap ketiban rejeki Rp 100 juta. Lha, ini sudah keliru, malah tambah serakah ini.

Tetapi sebagai manusia awam, sah-sah saja kita memiliki pengharapan demikian. Hitung-hitung sebagai penambah semangat dalam kebajikan. Meskipun kadarnya harus senantiasa kita sadari dan waspadai. Setelah kita mampu perlahan-lahan mengurangi ego terhadap materi, niscaya kita mampu mengurangi ego terhadap non-materi. Justru melepas ego yang non-materi ini yang paling sulit. Harus menyelam ke dalam lebatnya belantara batin. Nah, jika tidak melatih yang awal, bagaimana menembus yang akhir. Tidak perlu melatih yang hebat-hebat, yang mewah-mewah, mulailah dari hal yang sederhana dan praktis.

Demikian sedikit sharing dari saya, bila ada kekeliruan dan kesalahan, saya mohon maaf dan mohon koreksinya. Terima kasih.


MAY ALL BEING PEACE AND HAPPY!

By : Tedy Ho