Guruku, Engkau adalah penunjuk jalan,
Guruku, Engkau adalah cahaya penuntun,
Guruku, Engkau adalah pedoman sempurna,
Guruku, Engkau adalah pembimbing tiada tara,
Demi nama dan tahta, banyak yang menjual ajaranMu,
Demi harta dan wanita, banyak yang menyelewengkan ajaranMu,
Demi keamanan dan kenyamanan, banyak yang memutarbalikkan ajaranMu,
Demi kesurgawian dan keduniawian, banyak yang merendahkan ajaranMu,
Sesama siswa saling klaim,
Sesama siswa saling telikung,
Sesama siswa saling mengolok,
Sesama siswa saling melecehkan,
Namun biarlah...
Nurani ini yakin,
Masih ada permata berkilauan di alam semesta ini,
Masih ada keagungan yang tersisa di alam semesta ini,
Masih ada cahaya kebenaran sejati di alam semesta ini,
Masih ada penerus diriMu yang akan melanjutkan ajaran mulia.
Kamis, 27 Mei 2010
Dibalik Ketenangan Dan Kejernihan Air
Seperti kita ketahui, air memegang peranan yang cukup besar dalam menunjang kehidupan di alam semesta ini. Tubuh manusia saja, komposisi air terdapat 60-70 %. Dan dengan komposisi sebesar itu, air menjadi hal yang vital bagi kehidupan manusia.
Secara ilmiah, air dilambangkan dengan simbol H2O. Dua atom hidrogen berasimilasi dengan satu atom oksigen, maka jadilah unsur air. Kurang salah satu atom, tidak akan pernah ada unsur yang namanya air (Begitu kata para ahli kimia :D).
Perlu diketahui, sebagian besar sejarah peradaban manusia, bersumber dari wilayah yang mengandung sumber air berlimpah. Salah satu contohnya, peradaban disepanjang sungai Eufrat dan Tigris, yang dikenal dengan Mesopotamia.
Namun, air selain amat penting dalam kehidupan, juga bisa mendatangkan malapetaka, menyakitkan, dari kawan menjadi lawan. Coba tanyakan korban tsunami di Aceh, coba tanyakan korban banjir di Jakarta yang langganan banjir, coba tanyakan korban tembakan water canon aparat ketika berdemo, coba tanyakan para penderita paru-paru basah. Dengan beberapa kondisi tertentu, bisa mengerikan, bukan lagi penunjang kehidupan. Tapi bisa disebut pemusnah kehidupan (manusia).
Tolong jangan salah sangka, saya bukan ingin mengajak membicarakan keburukan air. Tidak ada penghakiman disini. Tidak tepat juga kalau dibilang ingin membahas secara hitam-putih, baik-buruk, benar-salah. Lebih tepat rasanya kalau mencari tahu apa yang menyebabkan terjadi demikian, bukan sekedar berargumen tanpa arah. Yang ada malah bisa-bisa terperosok ke dalam lembah perdebatan yang tiada akhir.
Yang lebih penting, ada nilai-nilai yang mungkin bisa diambil hikmahnya. Kalau mau diteliti, bukan masalah airnya. Air tetaplah air. Sesuai wataknya, air mengikuti wadah yang menampung. Dengan analogi yang sama, air menjadi menyakitkan bila ada "sesuatu" yang menyebabkan. Mungkin "sesuatu" ini bisa berupa energi, kehendak, kekeliruan, dan lainnya.
Segelas air yang jernih mungkin terasa menyenangkan bila sedang haus. Namun segelas air yang sama bisa terasa menyakitkan untuk seseorang yang sedang di interogasi menggunakan teknik waterboard. Bisa dipastikan, bukan maksud ingin mengatakan dualisme. Bukan maksud ingin berdiri diatas dua perahu.
Tolong jangan salah sangka lagi, juga tiada maksud ingin mengobarkan semangat pragmatis, apalagi oportunis. Mungkin terasa lebih enak, bila sebut aja, art of living. Daripada mengatakan hitam-putih, baik-buruk, benar-salah, mengapa tidak fokus pada apa yang disebut sebagai "sesuatu" ???
Art of living mungkin terasa membingungkan, tiada pedoman, seakan mengambang. Sebetulnya tidak juga, cuma butuh sedikit pergeseran point of view. Namun semua tiada paksaan, silakan pilih yang terbaik menurut selera masing-masing, terserah... Karena ini adalah art of living.
Semoga semua makhluk berbahagia dan selalu terhubung dengan sebab-sebah kebahagiaan...
TH 230510
Secara ilmiah, air dilambangkan dengan simbol H2O. Dua atom hidrogen berasimilasi dengan satu atom oksigen, maka jadilah unsur air. Kurang salah satu atom, tidak akan pernah ada unsur yang namanya air (Begitu kata para ahli kimia :D).
Perlu diketahui, sebagian besar sejarah peradaban manusia, bersumber dari wilayah yang mengandung sumber air berlimpah. Salah satu contohnya, peradaban disepanjang sungai Eufrat dan Tigris, yang dikenal dengan Mesopotamia.
Namun, air selain amat penting dalam kehidupan, juga bisa mendatangkan malapetaka, menyakitkan, dari kawan menjadi lawan. Coba tanyakan korban tsunami di Aceh, coba tanyakan korban banjir di Jakarta yang langganan banjir, coba tanyakan korban tembakan water canon aparat ketika berdemo, coba tanyakan para penderita paru-paru basah. Dengan beberapa kondisi tertentu, bisa mengerikan, bukan lagi penunjang kehidupan. Tapi bisa disebut pemusnah kehidupan (manusia).
Tolong jangan salah sangka, saya bukan ingin mengajak membicarakan keburukan air. Tidak ada penghakiman disini. Tidak tepat juga kalau dibilang ingin membahas secara hitam-putih, baik-buruk, benar-salah. Lebih tepat rasanya kalau mencari tahu apa yang menyebabkan terjadi demikian, bukan sekedar berargumen tanpa arah. Yang ada malah bisa-bisa terperosok ke dalam lembah perdebatan yang tiada akhir.
Yang lebih penting, ada nilai-nilai yang mungkin bisa diambil hikmahnya. Kalau mau diteliti, bukan masalah airnya. Air tetaplah air. Sesuai wataknya, air mengikuti wadah yang menampung. Dengan analogi yang sama, air menjadi menyakitkan bila ada "sesuatu" yang menyebabkan. Mungkin "sesuatu" ini bisa berupa energi, kehendak, kekeliruan, dan lainnya.
Segelas air yang jernih mungkin terasa menyenangkan bila sedang haus. Namun segelas air yang sama bisa terasa menyakitkan untuk seseorang yang sedang di interogasi menggunakan teknik waterboard. Bisa dipastikan, bukan maksud ingin mengatakan dualisme. Bukan maksud ingin berdiri diatas dua perahu.
Tolong jangan salah sangka lagi, juga tiada maksud ingin mengobarkan semangat pragmatis, apalagi oportunis. Mungkin terasa lebih enak, bila sebut aja, art of living. Daripada mengatakan hitam-putih, baik-buruk, benar-salah, mengapa tidak fokus pada apa yang disebut sebagai "sesuatu" ???
Art of living mungkin terasa membingungkan, tiada pedoman, seakan mengambang. Sebetulnya tidak juga, cuma butuh sedikit pergeseran point of view. Namun semua tiada paksaan, silakan pilih yang terbaik menurut selera masing-masing, terserah... Karena ini adalah art of living.
Semoga semua makhluk berbahagia dan selalu terhubung dengan sebab-sebah kebahagiaan...
TH 230510
Rabu, 05 Mei 2010
Nilai Sebuah Titik
"Sebuah garis terdiri dari kumpulan titik" (Albert Einstein)
Seorang jenius fisika dan matematika, Albert Einstein, pernah menyatakan pendapat diatas. Sekilas pintas tidak ada yang istimewa dari pernyataan tersebut. Garis hanyalah garis, titik hanyalah titik. Jelas-jelas dua hal yang berbeda. Namun selain sebagai seorang scientist, Albert Einstein ternyata menyimpan bakat filosofis yang tinggi. Bukan hanya berkutat pada rumus-rumus dan simbol-simbol matematis.
Titik mungkin terlihat remeh temeh. Terlihat ringkih, tak berdaya. Mungkin hanya berfungsi sebagai penanda akhir kalimat atau angka nominal. Namun, tidak bagi Albert Einstein. Menurutnya titik tidak hanya jadi pelengkap, lebih dari itu. Tanpa sebuah titik tidak akan menjadi sebuah garis. Cobalah letakkan dibawah mikroskop, dalam skala mikro (atau nano).
Dengan sebuah garis, bisa terbentuk bermacam-macam pola design bagi seorang perancang. Dengan sebuah goresan garis seni, bisa menjadi sebuah mahakarya lukisan bagi seorang maestro. Dengan sebuah tarikan garis, bisa menjadi blue print struktur bangunan megah nan artistik bagi seorang arsitek.
Semuanya berawal dari sesuatu yang sepele, nyaris terabaikan. Dari sesuatu yang terlihat kecil, nyaris tak dilirik. Dengan cara pandang yang sama, ternyata begitu pula yang terjadi pada kehidupan. Ada sesuatu yang berharga, tapi tidak dihargai. Ada sesuatu yang potensial, tapi tidak perlakukan dengan penuh potensi.
Nilai filosofis yang dapat kita petik yaitu, ternyata sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Sebuah masterpiece yang sangat bernilai, ternyata berasal dari sebuah hal yang sepele. Jangan mengira sesuatu yang besar, hebat, indah, muncul secara tiba-tiba. Tanpa pembentuk atau pendukung, yang besar, hebat, dan indah, tidak pernah ada.
Peran yang kecil tidak dapat dipandang sebelah mata. Semuanya saling terkait membentuk sistem atau hasil yang lebih baik. Mengabaikan yang kecil, sama saja mengakui diri sendiri tapi tidak mengakui orang tua sendiri. Mengingkari hakekatnya, durhaka.
Mohon maaf bila ada kesalahan, mohon koreksi bila ada kekeliruan.
TH 020510
Seorang jenius fisika dan matematika, Albert Einstein, pernah menyatakan pendapat diatas. Sekilas pintas tidak ada yang istimewa dari pernyataan tersebut. Garis hanyalah garis, titik hanyalah titik. Jelas-jelas dua hal yang berbeda. Namun selain sebagai seorang scientist, Albert Einstein ternyata menyimpan bakat filosofis yang tinggi. Bukan hanya berkutat pada rumus-rumus dan simbol-simbol matematis.
Titik mungkin terlihat remeh temeh. Terlihat ringkih, tak berdaya. Mungkin hanya berfungsi sebagai penanda akhir kalimat atau angka nominal. Namun, tidak bagi Albert Einstein. Menurutnya titik tidak hanya jadi pelengkap, lebih dari itu. Tanpa sebuah titik tidak akan menjadi sebuah garis. Cobalah letakkan dibawah mikroskop, dalam skala mikro (atau nano).
Dengan sebuah garis, bisa terbentuk bermacam-macam pola design bagi seorang perancang. Dengan sebuah goresan garis seni, bisa menjadi sebuah mahakarya lukisan bagi seorang maestro. Dengan sebuah tarikan garis, bisa menjadi blue print struktur bangunan megah nan artistik bagi seorang arsitek.
Semuanya berawal dari sesuatu yang sepele, nyaris terabaikan. Dari sesuatu yang terlihat kecil, nyaris tak dilirik. Dengan cara pandang yang sama, ternyata begitu pula yang terjadi pada kehidupan. Ada sesuatu yang berharga, tapi tidak dihargai. Ada sesuatu yang potensial, tapi tidak perlakukan dengan penuh potensi.
Nilai filosofis yang dapat kita petik yaitu, ternyata sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Sebuah masterpiece yang sangat bernilai, ternyata berasal dari sebuah hal yang sepele. Jangan mengira sesuatu yang besar, hebat, indah, muncul secara tiba-tiba. Tanpa pembentuk atau pendukung, yang besar, hebat, dan indah, tidak pernah ada.
Peran yang kecil tidak dapat dipandang sebelah mata. Semuanya saling terkait membentuk sistem atau hasil yang lebih baik. Mengabaikan yang kecil, sama saja mengakui diri sendiri tapi tidak mengakui orang tua sendiri. Mengingkari hakekatnya, durhaka.
Mohon maaf bila ada kesalahan, mohon koreksi bila ada kekeliruan.
TH 020510
Rabu, 31 Maret 2010
Sang Kura-Kura Dan Seekor Ikan
Pada suatu ketika di samudra yang maha luas, nyaris tak berbatas, berenang seekor ikan. Berputar-putar dalam samudra, seolah tak memiliki tujuan. Sebentar dia turun ke dasar samudra, sebentar dia naik ke permukaan. Karena bosan dia pun mengeluh, "Huff... Andaikan ada lagi tempat indah yang belum pernah kukunjungi".
Tanpa sengaja dia berpapasan dengan sang kura-kura, yang mimik wajahnya terlihat amat gembira. Mereka pun bertukar sapa, dan menanyakan sebab kegembiraan sang kura-kura. Diketahui bahwa sang kura-kura baru saja pergi ke suatu tempat yang indah, bersantai sejenak sambil berjemur, berada diluar samudra yang maha luas.
Si ikan begitu senangnya begitu mendengar ada tempat indah, yang belum pernah dia kunjungi. "Tolong antarkan aku kesana", pintanya kepada sang kura-kura. "Apakah engkau telah siap?", sang kura-kura meragukan. "Siap...!", balas si ikan.
Mereka segera meluncur menuju tempat yang dimaksud. Tanpa kesulitan sang kura-kura merayap menyisir bibir pantai, keluar dari samudra. Tinggal si ikan bingung sendirian, akhirnya dia putuskan untuk mencoba keluar dari samudra menuju pantai.
Dengan loncatan sekuat tenaga, si ikan meloncat keluar dari samudra, menuju pinggir pantai. Tapi apa daya, dia menggelepar bernafas megap-megap. Tiba-tiba cahaya kebijaksanaan muncul dalam dirinya, "Bila aku meneruskan perjalanan, mungkin aku akan mati sebelum mencapai tujuan, usaha yang sia-sia...", gumamnya.
Akhirnya dia memutuskan kembali ke samudra yang maha luas. Menyadari hakikat dirinya yang seekor ikan. Tanpa pernah tahu suatu tempat yang indah diluar samudra sana, seperti yang dikatakan sang kura-kura. Hanya mendengar... Tidak mengalami secara langsung...
HAPPY MONDAY...!!!
Semoga Semua Makhluk Senantiasa Berbahagia...
TH 290310
Tanpa sengaja dia berpapasan dengan sang kura-kura, yang mimik wajahnya terlihat amat gembira. Mereka pun bertukar sapa, dan menanyakan sebab kegembiraan sang kura-kura. Diketahui bahwa sang kura-kura baru saja pergi ke suatu tempat yang indah, bersantai sejenak sambil berjemur, berada diluar samudra yang maha luas.
Si ikan begitu senangnya begitu mendengar ada tempat indah, yang belum pernah dia kunjungi. "Tolong antarkan aku kesana", pintanya kepada sang kura-kura. "Apakah engkau telah siap?", sang kura-kura meragukan. "Siap...!", balas si ikan.
Mereka segera meluncur menuju tempat yang dimaksud. Tanpa kesulitan sang kura-kura merayap menyisir bibir pantai, keluar dari samudra. Tinggal si ikan bingung sendirian, akhirnya dia putuskan untuk mencoba keluar dari samudra menuju pantai.
Dengan loncatan sekuat tenaga, si ikan meloncat keluar dari samudra, menuju pinggir pantai. Tapi apa daya, dia menggelepar bernafas megap-megap. Tiba-tiba cahaya kebijaksanaan muncul dalam dirinya, "Bila aku meneruskan perjalanan, mungkin aku akan mati sebelum mencapai tujuan, usaha yang sia-sia...", gumamnya.
Akhirnya dia memutuskan kembali ke samudra yang maha luas. Menyadari hakikat dirinya yang seekor ikan. Tanpa pernah tahu suatu tempat yang indah diluar samudra sana, seperti yang dikatakan sang kura-kura. Hanya mendengar... Tidak mengalami secara langsung...
HAPPY MONDAY...!!!
Semoga Semua Makhluk Senantiasa Berbahagia...
TH 290310
Sabtu, 06 Februari 2010
Akhirnya Sang Naga Menampakkan Diri
Sosok naga yang misterius mengundang perdebatan, apakah naga benar-benar nyata adanya atau hanya legenda dari mitologi belaka? Dalam tradisi Chinese, naga dikenal sebagai sosok yang tak asing, kental dengan nuansa Chinese. Contohnya, karakter naga dimasukkan dalam salah satu shio menurut penanggalan kalender Chinese.
Belum lama ini beredar berita tentang penampakkan makhluk naga di sungai Riam Haloq, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sosok naga sepanjang kurang lebih 40 meter tertangkap kamera ponsel saat sedang melintas dipermukaan air sungai (silakan dilihat pada resensi dibawah).
Sebelumnya pada tahun 2000 di Tanjung Balai, Medan, dilaporkan juga terdapat penampakkan naga di atas langit. Gambar tersebut direkam oleh amatir (silakan dilihat pada resensi dibawah). Dan pada Juni 2004, juga dilaporkan ada penampakkan makhluk naga di atas langit pegunungan Himalaya, Tibet (silakan dilihat pada resensi dibawah).
Namun naga bukan hanya dikenal dalam tradisi Chinese. Sekitar 2500 tahun yang lampau, di daratan India (saat ini) sebagai asal Buddhisme, telah berkembang pengetahuan yang meyakini keberadaan naga. Yup, Buddhisme mengakui keberadaan makhluk naga. Menurut Buddhisme, naga termasuk salah satu kelompok makhluk Deva Asura, yang memiliki kesaktian.
Makanya jangan heran kalau kemunculan naga tidak sesering yang diharapkan. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang bisa menyaksikan eksistensi naga setiap saat, kapan pun yang dia mau. Kesimpulannya, semua hal tersebut memerlukan pengujian dan pembuktian lebih lanjut. Buddha menganjurkan untuk selalu mengembangkan sikap Ehipassiko, yaitu datang, lihat, dan buktikan. Jangan hanya mempercayai secara membabi buta.
Untuk melihat foto dan video yang dimaksud, silakan klik link pada resensi dibawah ini....
Resensi :
1. http://detikyogyakarta.net/inilah-foto-yang-diduga-penampakan-naga-yang-menggemparkan-warga-kutai-barat-kalimantan-timur/
2. http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t63165.html
3. http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?p=253546
Belum lama ini beredar berita tentang penampakkan makhluk naga di sungai Riam Haloq, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sosok naga sepanjang kurang lebih 40 meter tertangkap kamera ponsel saat sedang melintas dipermukaan air sungai (silakan dilihat pada resensi dibawah).
Sebelumnya pada tahun 2000 di Tanjung Balai, Medan, dilaporkan juga terdapat penampakkan naga di atas langit. Gambar tersebut direkam oleh amatir (silakan dilihat pada resensi dibawah). Dan pada Juni 2004, juga dilaporkan ada penampakkan makhluk naga di atas langit pegunungan Himalaya, Tibet (silakan dilihat pada resensi dibawah).
Namun naga bukan hanya dikenal dalam tradisi Chinese. Sekitar 2500 tahun yang lampau, di daratan India (saat ini) sebagai asal Buddhisme, telah berkembang pengetahuan yang meyakini keberadaan naga. Yup, Buddhisme mengakui keberadaan makhluk naga. Menurut Buddhisme, naga termasuk salah satu kelompok makhluk Deva Asura, yang memiliki kesaktian.
Makanya jangan heran kalau kemunculan naga tidak sesering yang diharapkan. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang bisa menyaksikan eksistensi naga setiap saat, kapan pun yang dia mau. Kesimpulannya, semua hal tersebut memerlukan pengujian dan pembuktian lebih lanjut. Buddha menganjurkan untuk selalu mengembangkan sikap Ehipassiko, yaitu datang, lihat, dan buktikan. Jangan hanya mempercayai secara membabi buta.
Untuk melihat foto dan video yang dimaksud, silakan klik link pada resensi dibawah ini....
Resensi :
1. http://detikyogyakarta.net
2. http://www.bluefame.com/lo
3. http://www.ngobrolaja.com/
Kamis, 07 Januari 2010
Angin Perubahan
Di wilayah timur jauh, tepatnya Mongolia, sekitar 1000 tahun yang lampau pernah terlahir seorang kaisar. Namanya Jenghis Khan, penguasa kekaisaran Mongol yang amat termashyur. Sejarah dunia mencatat bahwa kekaisaran Mongol adalah salah satu negara yang kekuasaannya mendekati dominasi atas seluruh dunia (global domination).
Kekuasaannya waktu itu adalah: China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara. Tapi itu hanya cerita dulu. Saat ini Mongolia termasuk dalam salah satu negara termiskin di Asia. Yang tersisa dari kisah legendaris itu hanya catatan sejarah.
Oei Tiong Ham, pada awal abad ke 20, konglomerat yang dikenal dengan julukan Raja Gula Asia. Disebut-sebut sebagai orang terkaya di Asia Tenggara pada jamannya. Usahanya mempunyai cabang-cabang di Bangkok, Calcutta, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Perusahaannya juga mempunyai properti dan sejumlah pabrik di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.
Lagi-lagi itu juga cuma cerita dulu. Saat ini warisannya sudah tercerai-berai, tergerus berkeping-keping. Perselisihan antar anggota keluarga yang tak kunjung usai. Sehingga klaim sebagai orang terkaya di Asia Tenggara tinggal kenangan.
Dengan kepalan tinju yang mematikan, Muhammad Ali menaklukkan lawan-lawannya diatas ring tinju. Puncaknya pada dekade 1960-1970an, ia mencatatkan dirinya sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat. Masa kejayaan telah melambungkan namanya ke seluruh penjuru dunia.
Namun masa-masa kejayaan itu sekarang telah usai. Ia yang dulu begitu perkasa diatas ring tinju, sekarang telah lemah gontai. Usia yang telah uzur, ditambah penyakit parkinson yang menggerogoti tubuhnya, semakin mempertegas melorotnya keperkasaan sang juara.
Dari sepenggal kisah catatan sejarah tersebut, bisa ditarik kesimpulan, bahwa tidak ada suatu kondisi yang bertahan terus menerus. Seiring dengan berjalannya waktu, angin perubahan cepat atau lambat akan lewat dihadapan. Meski terkadang berat untuk menerima kenyataan, namun hukum alam tidak pernah kompromi untuk menjalankan fungsinya.
Seperti dalam sabda Buddha, "Sabbe Sankhara Anicca". Secara harfiah berarti, "Segala Sesuatu Yang Berkondisi Adalah Tidak Kekal". Meskipun sering didengar atau baca, namun ketika angin perubahan datang menerjang, terkadang sulit menerima. Apalagi ketika sedang face to face berhadapan dengan fenomena ketidak kekalan, segala teori dan teks seolah kabur tak mau menemani. Padahal sudah menjadi sifat alamiah kehidupan, bahwa "Segala Sesuatu Yang Muncul, Pasti Akan Hancur Dan Lenyap". Ternyata butuh sesuatu yang spesial untuk benar-benar memahami makna yang teramat sukar diselami.
Setelah disadari, jalan ternyata masih terbentang jauh. Hanya mendengar kata-kata Sang Guru bahwa ada tujuan, namun masih diawang-awang. Nyaris tak terlihat, tertutupi tebalnya kabut kekotoran batin.
Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebencian,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.
TH 070110
Referensi :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Jenghis_Khan
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_PDB_(PPP)
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Oei_Tiong_Ham
4. Davonar, Agnes. 2009. Kisah Tragis Oei Hui Lan : Putri Raja Gula Asia Tenggara Dari Semarang. Jakarta.
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali
Kekuasaannya waktu itu adalah: China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara. Tapi itu hanya cerita dulu. Saat ini Mongolia termasuk dalam salah satu negara termiskin di Asia. Yang tersisa dari kisah legendaris itu hanya catatan sejarah.
Oei Tiong Ham, pada awal abad ke 20, konglomerat yang dikenal dengan julukan Raja Gula Asia. Disebut-sebut sebagai orang terkaya di Asia Tenggara pada jamannya. Usahanya mempunyai cabang-cabang di Bangkok, Calcutta, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Perusahaannya juga mempunyai properti dan sejumlah pabrik di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.
Lagi-lagi itu juga cuma cerita dulu. Saat ini warisannya sudah tercerai-berai, tergerus berkeping-keping. Perselisihan antar anggota keluarga yang tak kunjung usai. Sehingga klaim sebagai orang terkaya di Asia Tenggara tinggal kenangan.
Dengan kepalan tinju yang mematikan, Muhammad Ali menaklukkan lawan-lawannya diatas ring tinju. Puncaknya pada dekade 1960-1970an, ia mencatatkan dirinya sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat. Masa kejayaan telah melambungkan namanya ke seluruh penjuru dunia.
Namun masa-masa kejayaan itu sekarang telah usai. Ia yang dulu begitu perkasa diatas ring tinju, sekarang telah lemah gontai. Usia yang telah uzur, ditambah penyakit parkinson yang menggerogoti tubuhnya, semakin mempertegas melorotnya keperkasaan sang juara.
Dari sepenggal kisah catatan sejarah tersebut, bisa ditarik kesimpulan, bahwa tidak ada suatu kondisi yang bertahan terus menerus. Seiring dengan berjalannya waktu, angin perubahan cepat atau lambat akan lewat dihadapan. Meski terkadang berat untuk menerima kenyataan, namun hukum alam tidak pernah kompromi untuk menjalankan fungsinya.
Seperti dalam sabda Buddha, "Sabbe Sankhara Anicca". Secara harfiah berarti, "Segala Sesuatu Yang Berkondisi Adalah Tidak Kekal". Meskipun sering didengar atau baca, namun ketika angin perubahan datang menerjang, terkadang sulit menerima. Apalagi ketika sedang face to face berhadapan dengan fenomena ketidak kekalan, segala teori dan teks seolah kabur tak mau menemani. Padahal sudah menjadi sifat alamiah kehidupan, bahwa "Segala Sesuatu Yang Muncul, Pasti Akan Hancur Dan Lenyap". Ternyata butuh sesuatu yang spesial untuk benar-benar memahami makna yang teramat sukar diselami.
Setelah disadari, jalan ternyata masih terbentang jauh. Hanya mendengar kata-kata Sang Guru bahwa ada tujuan, namun masih diawang-awang. Nyaris tak terlihat, tertutupi tebalnya kabut kekotoran batin.
Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebencian,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.
TH 070110
Referensi :
1. http://id.wikipedia.org/wi
2. http://id.wikipedia.org/wi
3. http://id.wikipedia.org/wi
4. Davonar, Agnes. 2009. Kisah Tragis Oei Hui Lan : Putri Raja Gula Asia Tenggara Dari Semarang. Jakarta.
5. http://id.wikipedia.org/wi
Jumat, 01 Januari 2010
Wujud Pluralisme
Sejumlah besar umat Hindu merayakan hari raya Nyepi. Umat Buddha dengan hari raya Waisak. Lalu umat Kristiani ada hari kebesarannya juga, yaitu hari raya Natal. Sedangkan umat Muslim merayakan Idul Fitri. Setiap aliran kepercayaan memiliki hari kebesarannya masing-masing, dan dirayakan pula secara parsial oleh yang merayakan.
Tetapi ada satu hari yang dirayakan oleh seluruh umat yang disebutkan diatas, yaitu perayaan malam tahun baru. Tidak peduli apapun sistem kepercayaan, suku, warna kulit, dan golongan. Semua merayakan dengan suka cita, berbaur dalam perayaan yang meriah. Setiap momen perayaan terangkai dalam satu objektif yang sama, yaitu menunggu datangnya detik-detik pergantian tahun, tepatnya pukul 00.00
Boleh dibilang perayaan malam tahun baru merupakan perayaan umat manusia yang terbesar. Melebihi perayaan lain. Bebas dari embel-embel agama, bebas dari labeling gender, bebas dari kotak-kotak etnis, bebas dari merek-merek golongan tertentu. Semuanya berada pada satu kesepakatan.
Esensi yang dapat dipetik dari momen tersebut adalah wujud pluralisme. Yup, wujud tersebut tampak nyata ke permukaan, tidak semu. Pada dasarnya semua manusia memiliki nilai-nilai pluralisme, namun tertutupi oleh muatan yang begitu banyak.
Sekarang tinggal bagaimana meneruskan nilai-nilai tersebut dalam kelanjutan selama setahun yang baru ini, lalu kemudian digenjot lagi pada perayaan berikutnya. Jangan biarkan nilai-nilai pluralisme, mati kehabisan nafas.
Semoga pluralisme tetap jaya... SELAMAT TAHUN BARU 2010...
Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebenciaan,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.
TH 020110
Tetapi ada satu hari yang dirayakan oleh seluruh umat yang disebutkan diatas, yaitu perayaan malam tahun baru. Tidak peduli apapun sistem kepercayaan, suku, warna kulit, dan golongan. Semua merayakan dengan suka cita, berbaur dalam perayaan yang meriah. Setiap momen perayaan terangkai dalam satu objektif yang sama, yaitu menunggu datangnya detik-detik pergantian tahun, tepatnya pukul 00.00
Boleh dibilang perayaan malam tahun baru merupakan perayaan umat manusia yang terbesar. Melebihi perayaan lain. Bebas dari embel-embel agama, bebas dari labeling gender, bebas dari kotak-kotak etnis, bebas dari merek-merek golongan tertentu. Semuanya berada pada satu kesepakatan.
Esensi yang dapat dipetik dari momen tersebut adalah wujud pluralisme. Yup, wujud tersebut tampak nyata ke permukaan, tidak semu. Pada dasarnya semua manusia memiliki nilai-nilai pluralisme, namun tertutupi oleh muatan yang begitu banyak.
Sekarang tinggal bagaimana meneruskan nilai-nilai tersebut dalam kelanjutan selama setahun yang baru ini, lalu kemudian digenjot lagi pada perayaan berikutnya. Jangan biarkan nilai-nilai pluralisme, mati kehabisan nafas.
Semoga pluralisme tetap jaya... SELAMAT TAHUN BARU 2010...
Semoga semua makhluk berbahagia,
Bebas dari penderitaan,
Bebas dari kebenciaan,
Bebas dari penyakit,
Bebas dari kesukaran,
Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaannya.
TH 020110
Langganan:
Postingan (Atom)
